Tatanan Asa Nyata Vs Imajiner: Ketika Blog Menyatukan Hobi dan Mimpi

Sumber gambar: Pixabay

Tahun 2018 menjadi tahun yang penuh dengan perjalanan batin dan pikir. Dapat dikatakan bahwa takdir merangkai rentetan masa dan kisah yang sangat berarti bagi hidup saya dengan begitu indahnya. Ini semua mengenai asa, juang, dan realita.

Setiap orang berhak memiliki impian dalam hidupnya. Sekalipun itu mungkin terasa mustahil untuk digapai. Tidak terkecuali saya sendiri. Ketika itu saya memiliki begitu banyak impian. Jika hanya dipikir secara membumi rasa-rasanya impian itu pun terlalu besar untuk diri saya ini.

Oleh karena itu, saya mulai berpikir untuk menyederhanakan impian-impian saya. Impian itu tidak lagi saya utarakan dengan pernyataan “Saya ingin menjadi….”, tetapi “Saya akan melakukan….”.

Bagi saya tidak ada masalah dengan impian yang besar. Setidaknya dengan adanya impian itu ada sesuatu hal besar yang sudah dimiliki, yaitu keberanian untuk bermimpi dan memulai. Saya cukup mengapresiasi diri saya atas hal ini.

Di antara banyaknya impian dan keinginan besar ada dua hal sederhana yang sangat ingin saya kerjakan, yaitu membaca dan menulis lebih.

Saya ingin membaca dan mengetahui lebih banyak hal. Selain berharap saya akan menemukan dan memperoleh wawasan lebih, saya juga berharap bahwa dengan membaca lebih banyak maka saya tidak hanya menjadi lebih mengerti, tetapi dapat berkontribusi untuk memberi manfaat.

Selain membaca lebih saya ingin menulis lebih. Salah satu hal yang perlu dilakukan sebelum menginginkan sesuatu adalah mengenal dan memahami diri sendiri; menulis merupakan salah satu caranya.

Nah untuk saat ini mungkin saya akan lebih memfokuskan diri untuk mengisi konten di blog dan mencoba mengirimkan tulisan ke beberapa media, entah itu media daring ataupun bukan.

Berbicara mengenai blog saya rasa hampir semua orang tidak lagi asing mendengar kata tersebut. Apalagi di tengah kemajuan teknologi di era digital ini. Beberapa tahun belakangan bahkan peminat blog tidaklah berkurang, tetapi justru semakin menjamur banyaknya.

Sejujurnya blog ini saya buat pada bulan Oktober 2014. Akan tetapi, saya baru mulai menulis di blog ini pada akhir bulan September 2018. Tanpa sadar ada beberapa hal yang secara tidak langsung memiliki andil dalam menentukan kapan saya mulai menulis di blog. Salah satunya adalah keberanian untuk memulai itu yang terbentuk belum lama ini.

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk bisa bercerita. Saya rasa, menulis adalah salah satu cara saya untuk menyampaikannya.

Seperti arti pepatah kuno di atas. Apa yang terucap akan lenyap, apa yang tertulis akan abadi. Sehingga dengan menulis maka kita akan mengabadikan dan menuliskan sejarah tentang diri kita sendiri.

Lalu mengenai alasan kenapa saya memilih blog adalah karena ini adalah pilihan saya. Sebuah pilihan dalam rangka berjuang untuk memanfaatkan kemudahan di era digital ke dalam hal-hal positif. Sesederhana itu.

Ada banyak hal yang dapat saya tuliskan di blog ini. Mulai dari sebuah kisah, pengalaman, perasaan dan sebagainya. Baik akan disampaikan dalam bentuk fiksi atau sebaliknya.

Saya pernah berpikir bahwa tujuan menulis hanya sekadar mencari dan mendapatkan kesenangan belaka. Akan tetapi, semakin bertambahnya usia, saya mulai tersadarkan bahwa menulis lebih dari sibuk untuk mencari kesenangan diri.

Mereka yang menulis hadir dengan berbagai alasan dan latar belakang berbeda. Kesamaan yang saya temukan dalam perbedaan itu adalah ketulusan mereka dalam menulis untuk berbagi. Berbagi ilmu, pengalaman baru, cerita hidup, sampai dengan tawaran solusi.

Sebagai pemula saya masih belum sepenuhnya mengerti akan arti dari narablog itu sendiri. Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, padanan dari kata blogger ini mempunyai arti seseorang yang memiliki sebuah blog serta menyunting isi blog tersebut secara berkala maupun tidak berkala.

Apakah dengan begitu berarti saya dapat disebut sebagai narablog?

Kalau secara definisi sih sepertinya iya.

Hanya saja saya merasa belum pantas disebut sebagai narablog. Karena bagi saya pribadi menjadi narablog lebih dari itu. Harus ada keinginan dan usaha lebih dari sekadar menulis kemudian mengunggahnya. Ada tanggung jawab yang begitu besar saat menulis, terlebih menulis di media yang sifatnya publik.

Terlepas dari perdebatan pikiran saya dalam penyebutan sebagai apa dan siapapun diri saya, saya bangga sekaligus berbahagia memberikan kesempatan kepada diri saya untuk menulis. Saya bangga dengan keberanian saya untuk memulai. Saya juga merasa bahagia dengan fase-fase kehidupan yang saya lalui, ketakutan-ketakutan yang pernah saya rasakan, dan kegagalan yang menyakitkan. Alhamdulillah dengan semua itu saya masih terus belajar.

Selain itu, menjadi pemula di antara banyaknya narablog bertalenta juga merupakan kebanggaan tersendiri. Karena saya memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar dan berproses di sini, mendapat inspirasi, dan mungkin kelak adalah relasi.

Blog saya ini sudah beberapa kali mengalami perubahan nama ataupun alamat blog.  Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk berganti alamat dan judul sebagai Memori Jemari.

Jujur, saya masih merasa kesulitan menentukan tema yang pasti pada blog Memori Jemari ini. Konten di Memori Jemari ini masih terbilang bancuh, dapat dikatakan seperti blog campur aduk alias gado-gado.

Untuk saat ini memang belum terlalu jelas ke mana arah blog ini. Ada kemungkinan seterusnya akan seperti ini dan bisa juga suatu saat saya akan memutuskan untuk fokus pada salah satu atau beberapa topik yang benar-benar saya geluti. Dalam proses ini saya berharap bahwa kelak apa yang menjadi keputusan saya akan membawa kebaikan bukan hanya untuk diri saya, melainkan juga untuk orang lain.

Saya sadar sebagai manusia biasa tidak mungkin melakukan semua hal.

Mumpung masih bulan Januari, meskipun sudah menginjak akhir Januari tidak ada salahnya menulis resolusi. Khususnya resolusi terkait dengan blog Memori Jemari yang sedikit banyak memiliki korelasi dengan resolusi diri saya tahun ini.

Dengan begitu saya berharap pada tahun 2019 ini saya dapat memberikan konten-konten yang lebih memberi manfaat, pesan, kesan, dan punya nilai.

Semoga saja tulisan-tulisan yang saya sajikan akan menjadi lebih berkonsep dan kualitasnya pun lebih baik.

Di samping beberapa ihwal di atas, ada yang tidak kalah penting dari menuliskan resolusi atau harapan-harapan ke depannya, yaitu merealisasikannya. Memang untuk mewujudkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses, pengorbanan, perjuangan, dan kesabaran. Akan selalu ada tantangan yang menghadang, seperti rasa malas dan inkonsisten terhadap apa yang seharusnya dilakukan.

Itulah yang membedakan antara harapan yang nyata dengan angan semata. Harapan adalah impian yang terus dipegang teguh dan diperjuangkan. Kalau angan-angan hanya sebatas keinginan yang bersemayam dalam pikiran, tetapi belum tentu mendapat kejelasan untuk diwujudkan.

impian

Semua harapan memiliki kemungkinan yang sama besar untuk diwujudkan. Agaknya tidak hanya membutuhkan semangat, usaha, dan tekad, tetapi juga strategi untuk mewujudkan.

Realistis, idealis, dan optimis adalah tiga tiang yang dibutuhkan untuk membangun impian. Perlu diingat bahwa masing-masing dari ketiganya haruslah sesuai dengan takaran dan porsi yang pas.

Impian bukan hanya akan mengubah kehidupan seseorang, melainkan juga lingkungan sekitar dan bahkan masyarakat.

Saya pernah bermimpi menjadi ini dan itu. Saya pernah merasakan pahitnya dikecewakan realita yang berbeda dengan ekspektasinya. Saya belajar untuk memaafkan diri saya, kemudian mencoba lebih memahami mengenai apa yang saya inginkan, harapkan, dan butuhkan. Impian tidak hanya berakhir sampai kita mencapainya, namun bagaimana rasa tanggung jawab itu bisa memberikan dampak bagi sekitar.

Terkadang kita belum sepenuhnya memahami apa arti dari sesuatu yang kita sebut sebagai mimpi. Sehingga bukan tidak mungkin kalau kita terjatuh ke dalam definisi yang kita buat seolah-olah itu adalah arti sesunggguhnya.

Bermimpi untuk menyajikan tulisan yang bekualitas dan layak untuk dibaca? Jika iya, maka menulislah dan pelajari hal yang seharusnya kamu pelajari untuk mewujudkan impianmu.

Berjuang dan taklukan!

Yogyakarta, 25 Januari 2019

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. Cerita Maria says:

    Selamat menggeluti mimpi.

    Like

    1. Riza Isna Khoirun Nisa says:

      Iya, terima kasih. Harus berjuang keras ini. Oiya, salam kenal ya Mbak Maria. 🙂

      Like

  2. Saya suka dengan cara penyampaian Mbak Riza (atau Isna?). Menulis dengan baik dan benar zaman sekarang ternyata merupakan hal istimewa. Apa karena bacaan sekarang banyak dipengaruhi oleh tren berbahasa masyarakat yang tercemar kaidahnya? Beda banget dengan bacaan masa kecil saya yang terjaga bahasanya. Tahun telah berubah, pun penghuninya. Namun saya bersyukur ada blog yang dikelola dengan baik oleh narablognya dengan tampilan bahasa yang tak mengganggu keajekan struktur berbahasa saya yang boleh dikata lumayan “steril”.
    Semoga harapan dan azam Mbak tercapai. Punya blog TLD memang penting agar kita termotivasi untuk lebih serius garap blog. Saya juga beroleh banyak manfaat dari jelajah blog (blogwalking).
    Oh ya, menulis untuk blog dan media adalah hal yang mengasyikkan. Media adalah tujuan agar kita bisa beroleh jalan rezeki sekaligus aktualisasi diri. Blog juga bisa merupakan hal keduanya berikut tambahan interaksi aktif dengan sesama rekan narablog.
    Saya masih lakukan kesalahan tik di blog, ditulis kala terburu-buru atau terlalu lelah sehingga abai Salut pada Mbak yang ingin rapi dan bebas kesalahan tik.
    Saya suka pada tampilan tulisan ini, diselingi dengan gambar dan infografis yang pas dan tepat susunannya. Warnanya juga adem, he he.
    Semoga ke depannya tidak ganti nama dan judul blog lagi, ya. Khawatirnya bisa galat di mesin pencari. Atau memengaruhi peringkat blognya jadi nol lagi.
    Selamat mewujudkan asa dan menjalin silaturahmi. Saya juga bahagia dan bangga jadi narablog meski baru memulainya lagi setelah terhenti sekian tahun.

    Like

    1. Riza Isna Khoirun Nisa says:

      Boleh dipanggil Riza ataupun Isna Mbak. Alhamdulillah kalau ada yang suka. Hehe
      Iya, sepertinya sekarang ini media sosial juga berdampak sekali terhadap bacaan saat ini. Bahkan mungkin tulisan sepatah dua patah kata di media sosial lebih menarik karena bahasa yang digunakan lazim dan merupakan bahasa sehari-hari. Jadi mungkin secara tidak sadar pola bahasanya terbentuk dari sana. Saya berusaha untuk menulis sesuai dengan kaidah penulisan yang baik dan benar. Takutnya nanti kalau tidak akan terjadi salah makna dan arti dalam penyampaiannya. Ternyata menulis itu mudah, tetapi menulis yang baik dan benar tidak begitu. Harus selalu berteman dengan PUEBI, kamus Bahasa Indonesia dan sebagainya.
      Aamiin, ya Allah. Jika diizinkan Allah untuk memiliki rezeki yang cukup sebagai modal migrasi ke domain TLD semoga dimudahkan. Termotivasi supaya lebih bersemangat lagi dalam menulis.
      Jelajah blog ternyata dampaknya cukup berarti ya Mbak? Selain sebagai wujud apresiasi kita kepada teman-teman narablog yang lain, ternyata memiliki pengaruh terhadap trafik blog kita. Apa benar begitu? Mohon koreksinya, saya baru mulai belajar. Hehehe
      Baik, Mbak. Terima kasih atas sarannya. Saya belum begitu paham mengenai hal tersebut. Insyaallah tidak lagi mengganti nama dan alamat blog Mbak.
      Iya Mbak. Harus berjuang untuk mewujudkan. Terima kasih sudah bersedia bertandang ke blog saya yang sederhana ini Mbak. 🙂

      Like

      1. Ehm, dari segi tampilan desain blog ini jelas tak sederhana. Bagus secara visual, namun saya belum lihat di layar ponsel kecil karena kebetulan internetan pakai komputer lagi, manfaatkan waktu galat tak kumat, he he.
        Insya Allah, niat baik pasti beroleh jalan untuk mewujudkannya. Selalu ada jalan rezeki dari arah yang tak terduga asal kita mau ikhtiar saja.
        Soal trafik blog meningkat berkat jelajah blog? Saya tahu dari tulisan teman narablog alin yang membagikan pengalaman pribadinya.
        Jika kita jelajah blog dan meninggalkan jeak komentar, maka itu merupakan baclink blog kita di blog lain. Makin sering lakukan kunjungan dan tinggalkan jejak (tentunya sesuai dengan kaidah kunjungan positif dan lazim sesuai ketentuan Blogger milik Google), maka algoritma akan mencatatnya sebagai kunjungan organik yang akan meningkatkan trafik. Jadi bukan cuma trafik teman yang kita kunjungi saja naik, kita sebagai tamu ikut beroleh dampak positif dengan peningkatan trafik pula.
        Jangan segan lakukan jelajah blog dan tinggalkan jejak komentar, terutama pada blog ramai yang narablognya suka lakukan kunjungan balik dan ramah. Teman-teman saya yang rutin lakukan hal demikian ada banyak. Tinggal amati saja siapa mereka yang sering main dan komen karena belum semua teman saya kunjungi secara rutin.
        Selain itu, lebih sering menulis setiap hari dan mengisi blog dengan rutin maka akan meningkatkan trafik juga. Saya sedang berjuang agar kembali beroleh posisi strategis di halaman pertama mesin pencari, untuk itu butuh kerja keras agar ada banyak perusahaan yang tertarik menggunakan jasa saya dengan kerja sama jasa publikasi dan promosi. Itu bukan hal mudah. Mari kita wujudkan impian tersebut, bahwa mengubah hal mustahil menjadi mungkin tetap butuh kerja keras dan ketekunan, serta jangan lupa isi yang berkualitas.

        Like

        1. Riza Isna Khoirun Nisa says:

          Alhamdulillah saya mendapatkan ilmu baru. Mungkin untuk saat ini saya ingin semakin rajin melakukan jelajah blog Mbak. Kalau untuk menulis hampir setiap hari di blog saya rasa masih kesulitan. Untuk bisa menulis empat konten dalam sebulan pun saya harus berjuang ekstra. Manajemen diri dan waktu saya sepertinya belum begitu siap untuk itu. Semoga ke depannya akan terus berprogres.
          Siap Mbak. Saya jadi tambah bersemangat.

          Like

  3. joecandra18 says:

    smg semua resolusinya tercapai yah kak hehhe

    Like

    1. Riza Isna Khoirun Nisa says:

      Aamiin, terima kasih atas doanya Kak Joe.

      Like

  4. Kenapa harus berpikir terlalu berat, Mbak. Saya rasa perjalanan menulisnya juga jangan sampai tidak dinikmati karena terlalu banyak target dan impian.

    Menulis itu sesuatu yang menyenangkan, bahkan ketika tidak ada target atau resolusi yang harus dicapai.

    Bukan berarti memiliki target tidak boleh, bagus sebenarnya karena bisa memacu diri. Cuma, memberikan diri sendiri beban terlalu banyak justru membuat susah menikmati proses dan perjalanannya.

    Padahal, darisanalah rasa sayang dan cinta kepada menulis itu lahir.

    Itu yang saya rasakan selama perjalanan ngeblog saya, yang juga belum lama. Sama-sama baru mulai tahun 2014

    Like

    1. Riza Isna Khoirun Nisa says:

      Benar juga Mas. Saya setuju. Sepertinya saya memang membebani diri terlalu berat. Terlalu banyak hal yang ingin saya capai. Mungkin saja itu berarti bahwa saya memang belum begitu mengenal diri saya.
      Jujur saja sampai sekarang saya merasa bahwa menulis sekadar menulis. Seperti belum menemukan apa yang Mas sebut sebagai ‘menikmati proses dan perjalanan dalam menulis’. Perlahan saya akan coba berdamai dengan diri dan impian saya. Hingga semoga kelak saya bisa merasa senang menulis sekali pun tanpa ada target yang ingin saya capai.
      Saya kira perjalanan hampir selama lima tahun sudah memberikan bekal pengalaman yang cukup banyak, Mas. Saya memang membuat blog ini pada tahun 2014. Akan tetapi saya baru mulai ngeblog pada bulan September 2018 yang lalu. Baru beberapa bulan lamanya.
      Terima kasih atas saran dan masukan yang membangun ini.

      Like

Silakan tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s